Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Dua Asumsi Penyebab Panas Ekstrem di Surabaya Menurut BRIN

badge-check


					Surabaya alami panas ekstrem Perbesar

Surabaya alami panas ekstrem

Penulis:Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Lonjakan suhu ekstrem di Surabaya Raya yang terkonfirmasi oleh data dan proyeksi BRIN diasumsikan berasal dari kombinasi dua faktor utama.

Peneliti BRIN, Erma Yulihastin, menyebut faktor alamiah dan pemanasan lokal sebagai pemicu utamanya, sekaligus menawarkan solusi adaptasi dan mitigasi yang harus segera dilakukan.

Erma menekankan bahwa kenaikan suhu yang masif di Surabaya Raya memerlukan kajian lanjutan, namun berdasarkan data yang ada terdapat dua asumsi kuat sebagai penyebab itu semua.

Pertama, perubahan sirkulasi laut dan atmosfer

“Berkaitan dengan perubahan sirkulasi yang terjadi di Laut Jawa dan Selat Madura. Karena keduanya mengelilingi wilayah utara Surabaya, perubahan interaksi antara laut yang memanas dan atmosfer yang memanas diyakini memicu kenaikan suhu yang tidak normal,” kata Erma kepada Bloomberg Technoz, Senin (27/10/2025)

Kedua, efek urban heat island (UHI)

Erna menjabarkan gejala UHI dimana komposisi lingkungan di pusat kota yang didominasi bangunan berjejal dan minimnya ruang hijau. “Semuanya itu bangunan yang berjejal-jejal. Itu yang pasti memperparah panas lah,” tegasnya.

Erma Yulihastin menekankan bahwa solusi harus berfokus pada aksi lokal (modifikasi mikro iklim) untuk meredam panas yang dipicu oleh UHI. Dia menyarankan dua pendekatan utama; Nature-Based Solution (NBS), yakni penanaman mangrove untuk perlindungan pantai dan penerapan konsep Sponge City (Kota Spons) di wilayah darat.

Menurut dia, konsep Kota Spons penting untuk memastikan air hujan terserap ke dalam tanah saat terjadi hujan ekstrem, sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

Kedua, modifikasi mikro iklim, yakni mendorong pengusaha dan pemerintah kota untuk menerapkan Go Green dengan menanam sebanyak mungkin, menciptakan vertical garden, atau menghijaukan atap-atap gedung tinggi (rooftop).

Penghijauan ini dapat menyerap panas dan membantu menurunkan suhu lokal hingga 1-2 derajat celcius. Erma juga menyoroti adanya peluang ekonomi di sektor yang membutuhkan panas ekstrem seperti industri garam, di mana proses penguapan akan jauh lebih cepat. Namun, hal ini tetap harus diimbangi dengan data prediksi cuaca yang presisi agar kegiatan adaptasi ini berhasil.

“Wali Kota ini harus berpikir, gimana caranya mempunyai konsep, kota yang tahan terhadap perubahan [iklim],” tutup Erma.***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS: Cabai Rawit Tembus Lebih dari Rp100 ribu Per Kilogram

24 September 2026 - 19:59 WIB

Pengusaha Kapal Akui Tak Semua Operator Berani Angkut Kendaraan Listrik

24 September 2026 - 19:48 WIB

Sekolah Negeri Bakal Digratiskan, Mendikdasmen: Dimulai dari TK hingga Kuliah

23 September 2026 - 20:43 WIB

Warga RI Usia 17 Tahun Bakal Dapat Rp 50 Ribu, Pemerintah Siapkan Rp 3,8 T

23 September 2026 - 19:59 WIB

Pastikan Sesuai Spek, LSM Seven Gab Bersama Dinas PU Sidoarjo Pantau Proyek Jalan Bluru

23 September 2026 - 10:27 WIB

PHK Massal Bayangi Industri Keramik Jatim Imbas Pasokan Gas Terbatas

22 September 2026 - 20:36 WIB

Pemprov Jatim Amankan 411 Aset Idle dari Ancaman Mafia Tanah

22 September 2026 - 20:07 WIB

Arahan Prabowo, Bahlil Godok Strategi Konversi Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:12 WIB

Beras di Ritel Modern Kosong Imbas Fortifikasi Disetop, Mentan Buka Suara

21 September 2026 - 19:02 WIB

Trending di Nasional