Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Prof. Anhar Gonggong: Tayangan Trans7 Sebagai Bahan Refleksi Untuk Perbaikan

badge-check


					Prof. Dr. Anhar Gonggong Perbesar

Prof. Dr. Anhar Gonggong

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA– Sejarawan sekaligus guru besar, Prof. Dr. Anhar Gonggong, menanggapi viralnya aksi protes sejumlah santri terhadap tayangan Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan pesantren.

Melalui video di kanal YouTube resminya pada 17 Oktober 2025, Prof. Anhar menegaskan bahwa tayangan tersebut semestinya dilihat sebagai bahan introspeksi bersama.

“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, sebanyak-banyaknya, terutama kepada pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam,” ujarnya.

Ia menegaskan pandangannya tidak dimaksudkan untuk menjelekkan pesantren, melainkan mengajak semua pihak merenungkan realitas yang ada demi perbaikan pendidikan Islam ke depan.

Menurut Prof. Anhar, kemarahan terhadap Trans7 yang dituding menampilkan sisi negatif pesantren perlu disikapi dengan bijak.

Ia percaya stasiun televisi itu tidak bermaksud menjelekkan lembaga pendidikan Islam, melainkan menayangkan potret yang dapat menjadi bahan perbaikan.

“Apakah itu sebuah bentuk daripada kesopanan yang diajarkan oleh Islam?” katanya menyinggung tayangan yang memperlihatkan santri jongkok dan menerima sesuatu yang dilempar.

Lebih lanjut, Prof. Anhar menyoroti pentingnya nilai adab dan sopan santun sebagai bagian dari pendidikan Islam. Ia menilai praktik yang terkesan feodal justru berpotensi menodai tujuan utama pesantren, yakni membentuk manusia berpengetahuan sekaligus berakhlak mulia.

Karena itu, ia berharap para tokoh pesantren dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut membicarakan persoalan ini secara jernih agar pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang mencerminkan nilai-nilai luhur Islam.

Menutup pernyataannya, Prof. Anhar mengutip pesan Buya Hamka yang menurutnya relevan untuk menjawab tantangan zaman.

“Jika Islam ingin tetap tanda kutip, ya, eksis atau banyak yang mengikuti dan menyampaikan ajarannya, itu harus berkembang sesuai zaman dan melakukan modernisasi, tapi sewajarnya.” ujarnya

“Jadi, oke, kita modern, tapi kan ada beberapa yang kita bisa ambil dan enggak, kan? pungkasnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dinilai Lamban Tangani Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Anak Dibawah Umur, Polresta Sidoarjo Diancam Didemo

9 Juni 2026 - 19:00 WIB

Kuasa Hukum Dua Rekanan Kirim Surat ke Perumda Delta Tirta Harus Bayar Tagihan Rp 1,4 Miliar Sesuai Perintah Hakim Kasasi MA

6 Juni 2026 - 18:56 WIB

Ketika Rumah Kebudayaan Menjadi Arena Perebutan Panggung

11 Mei 2026 - 18:17 WIB

Bupati Fandi Ahmad Yani Beri Sangu Obat dan Vitamin untuk Ratusan Jamaah Haji Asal Kabupaten Gresik

3 Mei 2026 - 19:26 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Ke Sabah, Merawat Kesehatan Sekaligus Berwisata

19 April 2026 - 16:43 WIB

GAAN Soroti Peredaran dan penyalahgunaan Narkoba Makin Mengkhawatirkan

2 April 2026 - 18:56 WIB

Jadwal Acara Film Televisi Nasional Kamis 2 Maret 2026 ada Hellboy hingga Bioskop Trans TV

2 April 2026 - 10:44 WIB

Trending di Headline