Menu

Mode Gelap

Uncategorized

Cerita Hari Ini: Gara-gara Belanda Madura Dijuluki Pulau Garam

badge-check


					Suasana pabrik garam di Kalianget 1910 (Ist) Perbesar

Suasana pabrik garam di Kalianget 1910 (Ist)

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Saat ini Kota Tua Kalianget mungkin identik dengan bangunan-bangunan kuno. Namun, tahukah Anda bahwa kawasan ini dulunya merupakan kota modern pertama yang ada di Pulau Madura dan dibangun pada masa VOC.

Kalianget pada saat itu memang dikembangkan sebagai kota karena memiliki lokasi strategi dan merupakan daerah pelabuhan tersibuk di Selat Madura. Pelabuhan tertua yang ada di Sumenep ialah Pelabuhan Kertasada yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari pusat kota Sumenep.

Pada tahun 1705, Sumenep jatuh ke tangan VOC dan mulai dibangun benteng di Kalianget Barat. Namun, saat itu posisinya kurang strategis serta berbatasan dengan laut di Selat Madura. Benteng tersebut pun tidak jadi dibangun dan dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Loji Kantang.

Sesaat setelah kongsi dagang VOC dibubarkan, Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kekuasaan termasuk lahan garam yang ada di Sumenep. Kemudian guna memperkuat posisi ekonomi dan politik pemerintah Hindia-Belanda di Sumenep, tahun 1899 dibangun Pabrik Garam Briket, sebuah pabrik modern pertama di Indonesia.

Pemerintah Hindia Belanda di Sumenep membangun pabrik garam untuk memperkuat posisi ekonomi dan politik kolonialnya.

Potensi Ekonomi

Seperti kita ketahui selama berabad-abad lamanya garam merupakan komoditas yang aktif diperdagangkan di seluruh dunia. Hal tersebut sangat wajar, karena garam bukan hanya untuk dikonsumsi, melainkan juga untuk kepentingan industri terutama pengawetan ikan.

Pada abad ke-17, garam mulai menunjukkan tajinya di dunia perdagangan Nusantara. Garam menjadi komoditas utama selain beras dan tembakau di Pulau Jawa.

Antony Reid dalam buku Asia Tenggara dalam Kurun Niaga, mengatakan bahwa sejak dulu wilayah pesisir Jawa Timur sudah dikenal sebagai wilayah penghasil garam dengan mutu baik. Melalui pelabuhan-pelabuhan di antara Jawa dan Surabaya, garam yang berasal dari Madura didistribusikan ke seluruh wilayah Nusantara .

Melihat perdagangan garam yang mulai menunjukkan potensi, VOC mulai tertarik untuk ikut masuk dalam perdagangan garam.

Sadar karena tak punya sumber daya yang mumpuni dibidang tata kelola garam dan terbatasnya keuangan, kongsi dagang asal Belanda itu kemudian mengeluarkan sistem yang dikenal dengan istilah lisensi pajak.

VOC menunjuk pihak ketiga yang umumnya para pedagang Tionghoa. Mereka diberi keleluasaan untuk berinteraksi dengan para petani garam sekaligus mengatur pola penjualannya.

Sekalipun VOC mendapat keuntungan dari penjualan garam, namun besaran nilainya tak seberapa dibanding perdagangan komoditas lainnya. Kendala terbesar, banyak pemborong yang tidak memenuhi isi kontrak. Selain itu penyelundupan juga makin masif dilakukan, mulai dari tingkat petani hingga pemegang lisensi.

Era Modernisasi

Para pekerja di Pabrik Garam Kalianget, Sumenep, Madura 1914-1925. (Foto id.pinterest.com)

Kala Hindia Belanda jatuh ke tangan kekuasaan Inggris, pemerintah berupaya sekuat tenaga memberantas penyelewengan dalam dunia perdagangan garam. Mereka membuat berbagai macam peraturan dan mengenalkan sistem monopoli garam.

Sistem ini terus dipertahankan sejak Pemerintah Inggris meninggalkan Hindia Belanda pada tahun 1816. Sejak saat itu pengelolaan garam dilakukan secara terpusat dan diawasi langsung oleh Pemerintah.

Untuk meminimalisir aksi penyelundupan yang terus terjadi, tahun 1870 pemerintah kemudian menetapkan Pulau Madura sebagai satu-satunya daerah produsen Garam di wilayah Hindia Belanda.

Meski berbagai usaha kerap dilakukan agar pendapatan penjualan terus naik secara signifikan, pemerintah mengganggap masih banyak kekurangan, terutama hal-hal yang menyangkut sistem pendistribusian.

Pemerintah menganggap bahwa pengemasan yang dilakukan kurang efektif dan efisien. Hitungan berat garam yang tak menentu sering kali menjadi celah bagi setiap orang untuk berbuat curang. Selain itu garam curah yang dijual sering kali tercecer sehingga menimbulkan banyak kerugian di pihak pemerintah.

Keponakan Karl Marx, Henri Eduard Benno (H E B) Schmalhausen yang juga seorang mantan Asisten Residen di Purbalingga menyarankan agar pemerintah mengemas garam dalam bentuk kemasan. Dengan begitu garam mudah dijual dibanyak tempat dan masyarakat tidak harus membelinya dalam jumlah yang besar. Sehingga harga jualnya dapat dikontrol.

H E B Schmalhausen. (Foto igosaputra.com/genit.com)

Tahun 1890 diluncurkanlah sebuah kompetisi untuk mewujudkan ide tersebut. Tuan Carl Von Balzberg diumumkan sebagai pemenang. Ia mengusulkan garam briket yang sudah diolah agar sebaiknya dikemas dalam sebuah kertas khusus yang terbuat dari kulit dan karton. Atas idenya itu, pemerintah mengganjarnya dengan hadiah sebesar 10 ribu gulden.

Saran dari warga kota Isch, Austria itu kemudian ditindak lanjuti oleh seorang insinyur sipil T J van Buuren, dan doktor matematika sekaligus fisika K H Mertens yang saat itu menjabat sebagai direktur sekaligus guru HBS Surabaya.

J H Bergsma yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koloni akhirnya menugaskan Van Buuren untuk belajar pembuatan briket garam di Ischl dan juga memberinya kesempatan untuk mengunjungi pabrik mesin di Austria dan Jerman.

Sembari menunggu kepulangan Van Buuren ke Hindia-Belanda, pada tahun 1897 Menteri Bergsma membuat sebuah keputusan penting. Ia menggelontorkan dana sebesar 200 ribu gulden untuk pembangunan Pabrik Briket Garam percontohan di Kalianget. Pabrik tersebut selesai pada bulan Januari 1899.

Untuk pertama kalinya, garam-garam dari tanah Madura diproses dan dikemas ke dalam bentuk yang baru. Kristal putih itu dipres ke dalam bentuk briket menggunakan dua buah mesin yang didatangkan langsung dari Pabrik Breitfeld, Danek and Co di Praha.

Pembangunan pabrik tersebut juga memiliki berbagai fasilitas pendukung industri seperti lapangan tenis, gedung bioskop, kolam renang, taman kota, dan pemukiman bagi para pekerja. Di sana juga terdapat berbagai sarana pendukung untuk distribusi hasil garam, gedung pembangkit listrik, pelabuhan, dan transportasi berupa trem uap.

Konon, pembangunan Pabrik Garam Briket saat itu menjadi tanda kemajuan di Kalianget. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Madura masih identik dengan bangunan joglo yang menghadap ke selatan. Namun, di Sumenep sendiri sudah ditemukan bangunan-bangunan dengan arsitektur modern.

Saat di daerah lain masih bernuansa keraton atau kerjaan yang sarat budaya, di Kalianget saat itu bahkan sudah modern dan melampaui zamannya. Bahkan, ketika masa itu alat-alat tradisional masih digunakan di daerah lain, Kalianget sudah menggunakan teknologi modern. Sebagai buktinya, ada lori kereta untuk mengangkut garam, padahal di Madura saat itu orang-orang masih mengandalkan dokar atau delman.

Dr. K H Mertens. (Foto wikipedia.org)

Dengan adanya pabrik garam, kawasan Kalianget menjadi pusat produksi sekaligus distribusi garam yang sangat produktif sampai-sampai Pulau Madura dijuluki sebagai Pulau Garam. Kini, Kota Tua Kalianget juga baru diajukan sebagai Cagar Budaya Sumenep untuk menambah daftar objek cagar budaya lain seperti Museum Keraton, Masjid Jamik, dan Asta Tinggi.

Fasilitas pendukung Pabrik Garam Briket pun masih dapat ditemukan seperti kapangan tenis, kolam renang, taman kota, dan bioskop. Wisatawan juga dapat mengunjungi spot jam dinding tua di Pos Jaga Lonceng yang berada di pintu masuk timur pabrik garam. Dulunya tempat tersebut merupakan check point bagi para pekerja pabrik.

Selain itu juga masih ada Gedung Pembangkit Listri Sentral yang dibangun tahun 1914. Gedung yang kini terkesan angker tersebut dulunya memenuhi kebutuhan listrik semua rumah di lahan pergaraman.

Lori yang dulunya digunakan sebagai penarik kereta berisi garam pun masih bisa dilihat sampai saat ini, begitu juga dengan bangunan lain seperti bekas benteng Loji Kantang.***

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cerita Hari Ini: Kisah Raden Panji Dikelabui Kuntilanak Ganas Kalakunti di Hutan Keramat

26 Agustus 2025 - 11:37 WIB

Cerita Hari Ini: Sunan Bungkul, Petinggi Majapahit Penyebar Agama Islam Berumur 300 Tahun

25 Agustus 2025 - 11:43 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Sawunggaling Pukul Mundur 5.000 Pasukan Kompeni dan Tiga Kapal Perang

22 Agustus 2025 - 13:53 WIB

Cerita Hari Ini: Wassingrana, Pengikut Trunajaya Penguasa Selat Madura Bikin Pening Kompeni

21 Agustus 2025 - 10:16 WIB

Cerita Hari Ini: Bendera Merah Putih Pertama Dikibarkan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri

16 Agustus 2025 - 11:54 WIB

Kisah Cewek Bule Jane Bertemu “Dukun Cinta” dan Mengakui Kesaktiannya

15 Agustus 2025 - 14:15 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Pangeran Gatotkaca, Perebutan Keris Se Jimat dan Bersatunya Pamekasan-Sumenep

14 Agustus 2025 - 12:30 WIB

Cerita Hari Ini: Sultan Abdurrahman Raja Sumenep Dapat Gelar Doktor dari Raffles

13 Agustus 2025 - 09:30 WIB

Cerita Hari Ini: Bindere Saod Raja Sumenep Nyaris Tewas Ditebas Kepalanya oleh Patih Purwonegoro

11 Agustus 2025 - 11:17 WIB

Trending di Uncategorized