Menu

Mode Gelap

Life Style

Sisi Kapitalisme: Tubuh Wanita Ditutup atau Telanjang Sama Saja

badge-check


					Sisi Kapitalisme: Tubuh Wanita Ditutup atau Telanjang Sama Saja Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, TAMARIND AVE-Menurut Nawal El Saadawi, dunia saat ini berada di bawah kendali sistem kapitalisme global. Dalam sistem ini, perempuan dan laki-laki diperlakukan sebagai komoditas, bagian dari pasar besar yang hanya mengejar keuntungan.

Ia menegaskan bahwa tubuh perempuan telah menjadi sumber keuntungan ekonomi. “Ketelanjangan perempuan, riasan wajah mereka, semuanya, semua itu menghasilkan banyak keuntungan.” Dengan kata lain, tubuh perempuan dimanfaatkan baik saat ditutupi maupun saat dipamerkan.

“Pertama-tama, kita hidup di satu dunia—yaitu pasar, kapitalisme.” Di dalam sistem pasar kapitalis, perempuan menjadi objek ekonomi. “Perempuan adalah komoditas, kita adalah komoditas, laki-laki dan perempuan, dalam pasar besar ini, pasar kapitalis.” kata Nawal dalam sebuah Podcast, Leopotrek 24 Juli 2025.

Menurut logika pasar ini, tubuh perempuan bisa ditutup atau dibuka, tergantung mana yang paling menguntungkan. “Perempuan harus ditutup dan dibuka.” Ia menjelaskan, “Ditutup karena banyak uang bisa dihasilkan dari pemakaian penutup tubuh.” Contohnya, industri busana religius, simbol-simbol kesalehan, dan produk-produk terkait.

Sebaliknya, “Dibuka karena banyak uang juga bisa dihasilkan dari ketelanjangan.” Maksudnya, ketika tubuh perempuan diekspos lewat pakaian minim atau simbol kebebasan tubuh, pasar kecantikan, mode, dan hiburan pun mendapat keuntungan besar.

Ia melihat bahwa negara, masyarakat, dan media massa semua memainkan peran dalam mendukung kedua sisi ini. “Anda akan melihat bahwa masyarakat, atau pemerintah, atau media, mendukung baik ketelanjangan maupun pemakaian penutup tubuh.”

El Saadawi menyimpulkan bahwa “ketelanjangan dan penutupan tubuh adalah dua sisi dari mata uang yang sama.” Keduanya membawa pesan yang serupa: perempuan dianggap hanya sebatas tubuh.

“Ketika Anda menutup tubuh perempuan, itu berarti dia hanyalah tubuh yang harus ditutup.” Ia menambahkan, “Karena Anda tidak menutup pikiran, Anda menutup tubuh.”

Demikian juga ketika tubuh dibuat telanjang. “Ketika Anda membuat tubuh telanjang, itu berarti dia hanyalah tubuh.” Sebab, “Anda tidak bisa membuat pikiran telanjang atau tidak telanjang.” Artinya, baik ditutup maupun dibuka, perempuan tetap dipandang hanya sebagai tubuh, bukan sebagai pemilik akal dan pikiran.

Konsep perempuan sebagai objek tubuh yang dijual inilah yang mendatangkan keuntungan besar bagi pasar. “Ini akan membawa keuntungan.”

“Penutupan tubuh perempuan membawa banyak keuntungan bagi pasar, pasar kapitalis.” Begitu pula dengan perempuan modern yang dirias dan ditelanjangi secara simbolik. “Ketelanjangan perempuan dan riasan mereka, semua itu, perempuan pascamodern, membawa banyak keuntungan bagi pasar.”

Dengan begitu, Nawal El Saadawi menunjukkan bagaimana tubuh perempuan diperalat demi kepentingan ekonomi. “Jadi Anda bisa melihat bagaimana perempuan digunakan dalam pasar.”

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Han So-hee, “Peselingkuh Paling Cantik” Jadi Ikon Akting Korea

12 Februari 2026 - 16:13 WIB

Makna Tersembunyi di Balik Pisang, Ubi, dan Santan Kolak

12 Februari 2026 - 15:59 WIB

Lebih dari Sekadar Pewangi: Manfaat Daun Pandan untuk Hidup Sehat

11 Februari 2026 - 15:13 WIB

Kue Keranjang Bawa Rezeki, Kue Bulan Bawa Kebersamaan

11 Februari 2026 - 14:29 WIB

Nia Ramadhani Buka Suara Soal Isu Cerai dengan Ardi Bakrie

11 Februari 2026 - 13:25 WIB

Pandji Pragiwaksono Jalani Upacara Adat Toraja: Kena Denda Seekor Babi dan 5 Ekor Ayam

11 Februari 2026 - 00:15 WIB

Miss Universe Indonesia 2025 Ungkap Kriteria Kendaraan Idaman

10 Februari 2026 - 18:21 WIB

Sinetron Garapan AI Kini Makin Marak

10 Februari 2026 - 17:06 WIB

Cokelat Tak Boleh Disimpan di Kulkas atau Freezer

10 Februari 2026 - 16:32 WIB

Trending di Life Style