Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM. SURABAYA-Pernahkah anda bertanya kepada seorang perempuan, lalu sang perempuan tadi menjawab pendek: “terserah”? Jika suatu waktu anda mengajak makan di luar rumah kepada teman perempuan dan anda bertanya: “Mau makan apa?”, sang perempuan kemungkinan besar akan menjawab: “terserah”.
Ungkapan “terserah” yang kerap muncul dari perempuan saat ditanya tentang suatu pilihan “ingin makan apa” sering menjadi candaan bahkan sempat dibuat meme di media sosial. Namun, di balik jawaban sederhana itu tersimpan sejumlah faktor psikologis dan sosial yang telah diteliti oleh para ahli.
Kata terserah menyimpan sebuah makna yang dalam dari seorang perempuan. Paling tidak ada tiga alasan mengapa kata “terserah” sering muncul dari bibir perempuan. Tiga hal itu adalah sebagai berikut;
1. Keinginan untuk Menghindari Konflik dan Menyenangkan Orang Lain
Salah satu penjelasan utama mengapa perempuan menjawab “terserah”, adalah kecenderungan perempuan untuk menunjukkan sifat kooperatif dan menghindari konfrontasi langsung dalam pengambilan keputusan sosial.
Dalam buku berjudul “Personality and Individual Differences” (1992), Costa dan McCrae mengatakan, perempuan secara konsisten menunjukkan tingkat “agreeableness” (kemampuan bersepakat) yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Perempuan juga lebih cenderung mengutamakan keharmonisan sosial daripada menyuarakan preferensi (kesukaan) pribadi.
2. Norma Sosial Tentang Perempuan dan Makanan
Pilihan makanan bagi perempuan seringkali tidak hanya berkaitan dengan rasa lapar, tetapi juga menyangkut citra diri, persepsi orang lain, dan norma gender. Bagi perempuan, soal makan memang agak rumit dibdnaing laki-laki.
Seorang penulis tentang feminisme bernama Bordo (1993) menulis buku berjudul “Unbearable Weight: Feminism, Western Culture, and the Body”. Dalam bukunya itu Bordo mengatakan, “Dalam budaya Barat maupun Timur, perempuan lebih sering diasosiasikan dengan makanan sehat dan porsi kecil sebagai bagian dari konstruksi sosial mengenai femininitas.”
Konsekuensinya, banyak perempuan merasa tertekan untuk memilih makanan “yang benar” secara sosial dan menjadi ragu untuk menyatakan keinginannya secara langsung. Akibanya ketika ditanya makan apa? jawabnya: “terserah”
3. Beban Mental Akibat Pengambilan Keputusan Berulang
Jawaban pendek “terserah”, juga berkaitan dengan apa yang disebut sebagai “decision fatigue”, yaitu kelelahan akibat terlalu banyak membuat keputusan kecil sepanjang hari.
Perempuan sering menjadi penanggung beban untuk pengambilan keputusan rumah tangga sehari-hari, termasuk perencanaan makanan. Ini semua mengakibatka kelelahan dalam menentukan preferensi pribadi saat diminta memilih. Dalam jurnal “Journal of Marriage dan Family, penulis menyatakan, ketika ditanya soal makanan, respons “terserah” menjadi bentuk pelepasan dari beban mental tersebut.
Jawaban “terserah” dari perempuan bukan semata-mata karena mereka tidak tahu apa yang diinginkan, tetapi sering kali mencerminkan keinginan untuk menyenangkan orang lain. Tekanan norma sosial, hingga beban pengambilan keputusan sehari-hari merupakan alasan yang tak terungkap.
Memahami dinamika ini semoga dapat membantu membangun komunikasi yang lebih suportif dan setara dalam hubungan sosial maupun romantis.***