Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Inilah AI Death Clock yang Mengklaim Mampu Menghitung Kapan Seseorang akan Mati

badge-check


					Mati adalah keniscyaan, tetapi kapan itu terjadi pada seseorang sangatlah rahasia. Kini muncul AI Death Clock yang dikalim bisa meramalkan kapan seseorang akan mati. instagram@academucryptocom Perbesar

Mati adalah keniscyaan, tetapi kapan itu terjadi pada seseorang sangatlah rahasia. Kini muncul AI Death Clock yang dikalim bisa meramalkan kapan seseorang akan mati. instagram@academucryptocom

KREDONEWS.COM– Kita yakin bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kapan kita akan mati. Mati adalah sebuah kepastian tetapi manusia tidak pernah tahun kapan seseorang akan mati. Tetapi saat ini, manusia sedang menciptakan aplikasi Death Clock.

Sesuai namanya, aplikasi ini mengklaim mampu memprediksi tanggal kematian penggunanya dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Aplikasi Death Clock diciptakan oleh Brett Fransson. Aplikasi ini pertama kali diluncurkan pada Juli 2024 dan dirancang untuk memprediksi tanggal kematian penggunanya dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang dilatih berdasarkan lebih dari 1.200 studi tentang harapan hidup yang melibatkan 53 juta partisipan.

Fransson menjelaskan bahwa aplikasi ini tidak hanya memberikan prediksi, tetapi juga menawarkan saran untuk meningkatkan kesehatan pengguna.
Brett Fransson, pencipta aplikasi Death Clock, tertarik untuk mengembangkan aplikasi ini sebagai respons terhadap kebutuhan akan alat yang dapat memberikan pemahaman lebih baik tentang harapan hidup seseorang.
Dalam wawancara, Fransson menyatakan bahwa Death Clock dirancang untuk memberikan “kebenaran pahit” mengenai rentang hidup pengguna berdasarkan kebiasaan hidup mereka saat ini.
Fransson menginginkan aplikasi ini tidak hanya untuk memprediksi tanggal kematian, tetapi juga untuk memberikan rekomendasi tentang cara memperpanjang usia melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat.
Ia menggambarkan aplikasi ini sebagai “malaikat maut pribadi” yang dilengkapi dengan tips kesehatan, sehingga pengguna dapat melakukan langkah-langkah proaktif untuk meningkatkan kesehatan mereka

Aplikasi ini mengumpulkan data dari pengguna mengenai kebiasaan hidup mereka, seperti diet, olahraga, tingkat stres, dan pola tidur, untuk menghasilkan prediksi yang lebih akurat dibandingkan dengan tabel mortalitas standar:

Begini cara kerjanya:

  1. Pengumpulan Data: Pengguna harus mengisi kuesioner yang mencakup informasi pribadi seperti usia, jenis kelamin, etnis, serta pertanyaan lebih mendalam tentang riwayat kesehatan dan kebiasaan hidup
  2. Analisis AI: Death Clock menggunakan model AI yang dilatih dengan lebih dari 1.200 studi tentang harapan hidup yang melibatkan 53 juta partisipan. Model ini menganalisis data untuk memberikan prediksi spesifik tentang tanggal kematian dan harapan hidup pengguna
  3. Rekomendasi Kesehatan: Selain memprediksi kematian, aplikasi ini juga memberikan saran untuk meningkatkan kesehatan dan memperpanjang umur berdasarkan kebiasaan penggun

Meskipun aplikasi ini menunjukkan potensi dalam memprediksi kematian, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan:

  • Akurasi Prediksi: Penelitian menunjukkan bahwa model AI seperti life2vec, yang digunakan dalam konteks penelitian lain, dapat mencapai akurasi sekitar 78% dalam memprediksi risiko kematian berdasarkan data demografis dan kesehatan. Namun, akurasi spesifik dari Death Clock belum sepenuhnya teruji secara ilmiah.
  • Etika dan Privasi: Ada kekhawatiran mengenai penggunaan data pribadi dan potensi bias dalam model AI. Peneliti menyarankan agar prediksi semacam ini tidak digunakan oleh perusahaan asuransi jiwa karena masalah etika yang mungkin timbul

Death Clock menawarkan pendekatan baru dalam memahami kesehatan dan harapan hidup melalui teknologi AI.

Meskipun aplikasi ini dapat memberikan wawasan berharga, penting untuk diingat bahwa prediksi tersebut bersifat probabilistik dan tidak dapat dianggap sebagai kepastian.

Pengguna disarankan untuk menggunakan informasi ini sebagai motivasi untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat, bukan sebagai ramalan definitif tentang kematian mereka.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Barbossa dan Gibran Ajukan Surat Mundur sebagai Staf Ahli Kemenhaj

27 Oktober 2026 - 05:06 WIB

Kalaksa BPBD Wiko Diaz: Glontorkan Air Bersih ke Kebon Dalem Bareng dan Jipurafah Plandaan

26 Oktober 2026 - 21:55 WIB

Jembatan Rp3 Miliar Kudu-Ngusikan Rampung 70,9 Persen, Warsubi Permudah Lalu Lintas dan Ekonomi

26 Oktober 2026 - 20:58 WIB

Pinsar Usulkan Zonasi Harga untuk Atasi Anomali Harga Telur Ayam

26 Oktober 2026 - 19:30 WIB

PKK Jombang Meraih 2 Penghargaan di Malang: Lomba Video dan Kader Pendamping ASI Eksklusif

26 Oktober 2026 - 19:17 WIB

Tiga Bulan Gelar Operasi Sarang Narkoba, Polres Jombang Ungkap 41 Kasus 

26 Oktober 2026 - 13:36 WIB

Kapolres Jombang Ajak Jemaat Gereja Jaga Kamtibmas

26 Oktober 2026 - 13:14 WIB

Rumah Usaha Kasur Terbakar Merembet ke Rumah Tetangga di Mancilan, Fatkhur Alami Kerugian Rp800 Juta

26 Oktober 2026 - 10:14 WIB

Prajurit TMMD 130 Selesaikan Bangun Jalan, Permudah Akses Ekonomi Warga Klitih Plandaan

26 Oktober 2026 - 09:35 WIB

Trending di News