Penulis : Elok Apriyanto | Redaktur: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JOMBANG– Produksi padi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada tahun 2026 diramalkan lonjakan lonjakan drastis. Dinas Pertanian (Disperta) setempat memasang target luas panen Musim Tanam (MT) I 2026 sebesar 35.000 hektare, dengan puncak panen raya diproyeksikan jatuh pada pertengahan Maret hingga awal April.
Kepala Disperta Jombang, Pak Rony, menyatakan keyakinan tinggi ini bertumpu pada penyebaran lahan tanam yang merata di hampir semua kecamatan, ditambah kondisi tanaman yang tergolong prima.
“Dengan luasan panen yang cukup besar dan sebarannya hampir merata, kami optimistis produksi padi tahun ini akan lebih tinggi,” ungkap Rony, Rabu (11/2/2026).
Ia menambahkan, dari aspek produktivitas, Disperta Jombang menjanjikan hasil rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) mencapai 7,5 ton per hektare. Jika diubah menjadi Gabah Kering Giling (GKG), angkanya sekitar 6,24 ton per hektare.
“Ini menandakan adanya perbaikan produktivitas sekaligus efisiensi budidaya,” tambahnya.
Rony menjelaskan bahwa dengan luas lahan panen tahunan rata-rata 70.000 hektare, Jombang mempunyai potensi yang kuat sebagai lumbung padi pendukung ketahanan pangan Jawa Timur dan swasembada nasional.
“Data tahun 2025 menunjukkan capaian produksi melampaui target pemerintah pusat. Dari target 81.000 hektare, realisasinya mencapai 86.000 hektare dengan produktivitas GKG 6,24 ton per hektare. Total produksi tercatat di atas 446.715 ton gabah kering giling atau setara 257.942 ton beras,” ungkapnya.
Di sisi lain, kebutuhan beras warga Jombang hanya sekitar 149.237 ton setahun. Dengan demikian, kabupaten ini surplus beras hingga 108.705 ton sepanjang tahun 2025.
“Artinya kita memiliki kelebihan produksi yang signifikan untuk memperkuat ketahanan pangan,” tegas Rony.
Menjelang musim tanam selanjutnya, Disperta Jombang menima kabar baik dari prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menu Rony, 2026 diprediksi cuacanya normal. Musim kering diperkirakan dimulai akhir April atau awal Mei, sementara musim hujan kembali pada perdengahan Oktober.
“Dengan kondisi iklim yang relatif normal, petani bisa merencanakan pola tanam lebih baik,” katanya.
Situasi ini hanya menguntungkan padi, tapi juga komoditas unggulan seperti tembakau dan palawija, termasuk jagung, kedelai, serta semangka.
“Untuk tembakau dan palawija, ramalan BMKG cukup mendukung karena sudah masuk musim kemarau,” tutupnya. **






