Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS..COM, JAKARTA-Indonesia merupakan salah satu pusat keragaman sukun (breadfruit) di dunia dengan persebaran yang luas di hampir seluruh pulau besar.
Tanaman sukun (Artocarpus altilis) tumbuh mulai dari Sumatra hingga Papua seiring dengan adaptabilitasnya yang tinggi terhadap berbagai kondisi iklim sehingga sesuai dengan profil geografis wilayah tropis. Karakteristik buah yang besar serta kaya akan karbohidrat menjadikan sukun sebagai sumber pangan lokal potensial dalam upaya mengurangi ketergantungan pada beras.
Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Marietje Pesireron, mengatakan bahwa sukun merupakan tanaman buah yang dapat digunakan sebagai alternatif pangan pokok.
Selain karbohidrat, kandungan nutrisi seperti vitamin, mineral, serat, sehingga senyawa bioaktif saponin dalam sukun memiliki manfaat bagi kesehatan. Meskipun memiliki potensi besar dalam mengurangi kelaparan, Marietje mencatat bahwa budidaya sehingga penggunaan sukun di Indonesia terus mengalami penurunan.
“Sukun merupakan salah satu tanaman buah potensial di Indonesia yang tinggi karbohidrat dan dapat digunakan sebagai alternatif pengganti beras,” ujar Marietje Pesireron dikutip dari keterangan tertulis BRIN.
Pemanfaatan sukun sebagai bahan pangan didukung oleh profil nutrisinya yang lengkap guna menunjang kesehatan tubuh. Dalam 100 gram buah sukun terkandung sekitar 25 gram karbohidrat, 3 gram protein, sehingga sejumlah vitamin A, B, dan C. Kandungan serat yang tinggi pada buah ini berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan serta membantu pencegahan penyakit degeneratif seperti diabetes.
Secara agronomis, tanaman sukun memiliki daya tahan terhadap hama sehingga memberikan kemudahan dalam proses budidaya di lahan pekarangan maupun perkebunan.
Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan ORPP BRIN, Dwinita Wikan Utami, menyatakan bahwa konservasi keanekaragaman sukun sangat penting untuk dilakukan.
Langkah ini bertujuan untuk mempertahankan variasi varietas unggul yang memiliki potensi sebagai pangan alternatif di tengah kenaikan jumlah penduduk sehingga permintaan beras nasional terus meningkat.
“Sukun memiliki variasi keragaman nutrisi sehingga sangat berpotensi sebagai pangan alternatif untuk membantu kecukupan pemenuhan nutrisi pangan masyarakat,” kata Dwinita Wikan Utami.
Di tingkat masyarakat, pengolahan sukun mulai berkembang dari camilan tradisional menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi.
Masyarakat di Gorontalo mengenal sukun dengan nama lokal amo dan mengolahnya menjadi keripik atau panganan kukus yang dikonsumsi bersama sambal. Di sisi lain, teknologi pengolahan hasil sukun kini mulai menyentuh metode modern guna meningkatkan umur simpan sehingga memudahkan distribusi ke pasar yang lebih luas.
Meskipun memiliki potensi besar, Marietje Pesireron dari BRIN mengungkapkan bahwa industri sukun masih menghadapi tantangan serius berupa erosi genetik dan penurunan budidaya.
Banyak varietas lokal yang mengandung alel penting untuk toleransi terhadap kekeringan belum tergali secara optimal. Pelestarian sumber daya genetik melalui identifikasi jarak genetik dan pengembangan secara in-situ maupun ex-situ merupakan langkah penting agar komoditas ini tidak terus menyusut keberadaannya.
Selain faktor teknis budidaya, Dwinita Wikan Utami menyoroti bahwa ketersediaan stok pangan nasional sering kali tertekan oleh kenaikan jumlah penduduk yang tidak dibarengi dengan kesiapan stok beras. Kondisi ini mendorong urgensi program diversifikasi pangan berbasis sukun sebagai substitusi impor.
Strategi hilirisasi yang ditekankan mencakup pengolahan sukun menjadi produk setengah jadi seperti tepung agar lebih mudah didistribusikan ke sektor industri makanan, perhotelan, hingga pasar retail perkotaan. Langkah diversifikasi pangan melalui sukun merupakan upaya dalam menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berbasis pada sumber daya lokal.***







