Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Life Style

Bercerai Ternyata Bukan Jalan Pintas, Namun Awal Perjalanan yang Panjang

badge-check


					Endang Prawati Gulo, Sumber IG EndangPrawati Perbesar

Endang Prawati Gulo, Sumber IG EndangPrawati

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

SURABAYA, KREDONEWS.COM– Unggahan Endang Prawati Gulo di Instagram kembali menjadi perbincangan setelah diposting seminggu yang lalu.

Endang dikenal publik sebagai kreator yang piawai merangkai cerita kehidupan sehari-hari dengan menyematkan pesan moral mendalam.

Melalui unggahan di akun pribadinya, ia memaparkan kisah perceraian seorang perempuan bernama Mira (bukan nama sebenarnya). Endang menceritakan awal mula keputusan Mira berpisah hingga pergolakan emosi yang masih membelenggunya saat ini.

Endang menjelaskan, “Penyesalan Mira memutuskan untuk bercerai bukan karena suami selingkuh, bukan karena KDRT, ataupun tidak dinafkahi.”

Ia melanjutkan dengan menyampaikan inti permasalahan, “Hanya karena perbedaan pendapat setiap harinya, mereka sama-sama capek lalu menyerah.”

Dua kalimat inilah yang menjadi fokus utama dari kisah yang dibagikan Endang. Hubungan Mira dan suaminya, yang sejatinya bersih dari kekerasan dan perselingkuhan, harus berakhir karena akumulasi konflik kecil harian, komunikasi yang stagnan, dan ketiadaan upaya untuk saling mengerti.

Setelah resmi bercerai, Mira harus menghadapi kenyataan sebagai orang tua tunggal. Kedua anaknya kini tinggal bersamanya. Beban ganda harus ia pikul: memastikan perkembangan anak-anak berjalan baik sambil menata ulang kehidupan pribadinya.

Pada masa-masa ini, ia baru menyadari betapa beratnya menjalankan semua rutinitas tanpa kehadiran pasangan. Tugas rumah tangga dan mengurus anak yang dulu bisa dibagi, kini harus dilakukan sendiri: menyiapkan bekal anak, membereskan rumah, hingga mengirimkan surat lamaran pekerjaan di sela-sela waktu.

Endang menggambarkan bagaimana Mira berjuang dari pagi hari mengurus keperluan anak sembari berburu pekerjaan. Walau mendapat dukungan finansial dari mantan suami, Endang menyebutkan bahwa bantuan tersebut terbatas dan hanya cukup untuk kebutuhan anak. Ini berarti, kebutuhan hidup Mira sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Meskipun terlihat tabah menjalani hari, Mira seringkali menyerah pada emosinya di malam hari. “Di malam-malam tertentu dia menangis karena rumah terlalu sunyi.”

Kesunyian di rumah menciptakan ruang sunyi yang memaksanya untuk merenung. Namun, refleksi itu seringkali berubah menjadi rasa sepi dan tertekan. Setelah anak-anak terlelap, Mira kerap dihantui kecemasan akan masa depan.

Keinginan untuk kembali menikah lagi sempat terlintas, tetapi ia ragu apakah pernikahan kedua akan menjadi jalan keluar?

Endang menirukan kekhawatiran Mira, “Dan ketika terpikir untuk menikah lagi, dia takut bagaimana dengan anak-anakku, bagaimana berdamai dengan anak tiri ke depannya, dan bagaimana kalau luka lama dibalut dengan luka baru.”

Mira dibayangi rasa takut mengulang kegagalan serupa, ditambah kekhawatiran akan penerimaan figur baru dalam keluarga kecil yang masih rentan, terumata dengan adanya anak tiri di kedua belah pihak.

Di tengah kisahnya, Endang menyuguhkan sebuah perenungan mendalam: “Karena perceraian bukan jalan pintas, itu adalah ibadah panjang, jalan panjang yang harus dilalui.”

Bagi Mira, perceraian ternyata bukan akhir dari penderitaan, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk mengelola tanggung jawab baru dan menyembuhkan diri.

Keputusan berpisah yang diambil saat sedang lelah berdebat kini terasa seperti pintu yang tertutup tanpa rencana cadangan yang matang.

Pesan moral dari cerita ini sangat penting, khususnya bagi pasangan yang berniat berpisah hanya karena konflik harian, bukan karena perselingkuhan, KDRT, atau masalah nafkah. Endang mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali.

Ia menegaskan bahwa konflik kecil sehari-hari tidak boleh dibiarkan menghancurkan hubungan. Tidak ada pernikahan yang bebas dari perbedaan, yang terpenting adalah kemauan untuk merawat hubungan itu.

Kisah Mira menunjukkan bahwa pernikahan memerlukan ketahanan komunikasi dan semangat memaafkan. Mengalah pada rasa lelah akibat konflik remeh mungkin terasa nyaman sesaat, tetapi konsekuensinya bisa jauh lebih berat.

Perceraian, seperti yang dialami Mira, adalah perjalanan panjang penuh tugas, bukan jalan pintas menuju ketenangan. Kita diingatkan untuk berpikir masak-masak sebelum melepas ikatan yang masih memiliki harapan untuk diperbaiki.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Fans Sepakbola Ini Disangka Produk AI Saking Cantiknya

26 Juni 2026 - 19:32 WIB

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Makanan Rusak saat Listrik Padam

24 Juni 2026 - 18:44 WIB

Facebook Dipenuhi Video Porno, Cukup Satu Kta Kunci Pencarian

24 Juni 2026 - 18:21 WIB

Presenter Piala Dunia ASAL Italia Ini Sosmednya Dibanjiri Ribuan Like

18 Juni 2026 - 19:47 WIB

Izabel Kovacic akan Panaskan Tribun Piala Dunia

17 Juni 2026 - 18:52 WIB

Fans Terseksi Piala Dunia Menurut Survei, Argentina Nomor Satu

16 Juni 2026 - 20:16 WIB

Meski Neymar Tak Bermain, Pacarnya Pamer Tubuh Seksi di Piala Dunia 2026

15 Juni 2026 - 20:01 WIB

Kecantikan Brasil Ciptakan Sensasi di Piala Dunia 2026

14 Juni 2026 - 19:28 WIB

Cara Aman Nikmati Piala Dunia 2026 Tanpa Merusak Kesehatan

12 Juni 2026 - 19:41 WIB

Trending di Life Style