Penulis: Arso Yudianto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SURABAYA- Pimpinan Pusat Dai Kyokushin Karate Indonesia (DKKI) akan menggelar kejuaraan Nasional Kyokushin dengan tema ” Open Tournament Soengging Cup XII Kyokushin Karate Indonesia”, akan di selenggarakan pada tanggal 21 – 22 November 2025, di Atrium Gressmall Gresik
Open Tournament Soengging Cup XII Kyokushin Karate Indonesia akan diikuti oleh 150 peserta atlet dari sebelas perguruan aliran Kyokushin Indonesia yang tergabung dalam paguyuban Jatim yang sudah menjalin kerjasama dengan Dai Kyokushin Karate Indonesia.
Ketua Umum DKKI, Senpai Tunggul Aryo Wibowo kepada Kredonews.com, Selasa, 26 Agustus 2025, menyatakan rencana ini bagian dari upaya pembinaaan dan peningkatan mutu atlet DKKI, setelah sukses mengikuti Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VIII di NTB.
Tunggul memberikan apresiasi, karena cabang olahraga DKKI (Dai Kyokushin Karate Indonesia) , resmi masuk dalam Fornas VIII NTB, sebuah momen bersejarah mengingat perguruan ini baru berdiri pada 2022 dan terdaftar di Kormi Nasional pada 2023.
Kancho Soengging Soerjasmoro, Founder & Chairman Dai Kyokushin Karate
Indonesia (DKKI). Foto: Dok/ Pengurus Pusat DKKI
“Alhamdulillah, pada tahun 2025 kami sudah ikut Fornas VIII NTB sebagai anggota tetap Induk Olahraga (Inorga) Kormi (Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia),” tutur Tunggul Aryo Wibowo didampingi Ketua Dewan Guru DKKI, Shihan M. Mahmoed.
Wibowo berharap ada penambahan kuota peserta pada Fornas IX mendatang, mengingat tingginya antusias peserta dari berbagai daerah.
Saat ini Fornas VIII harus membatasi akomodasi atlet karateka, padahal ada 18 kelas dengan 162 karateka dari 10 provinsi. Sekitar 50 persen dari mereka membiayai sendiri keikutsertaannya.
“Keterbatasan dana dari Kormi daerah membuat kami harus membatasi jumlah peserta yang dapat diberangkatkan ke Fornas,” jelasnya.
DKKI kini sudah tersebar di 15 provinsi dengan 98 dojo dan hampir 5.000 anggota aktif.
“Kami berharap Kormi dapat mengakomodasi keinginan para karateka di Fornas mendatang,” pungkasnya.
Elmeyra Aghna Vania, mahasiswa semester 5 Jurusan Teknik Sipil Undip dan atlet karate perwakilan Jawa Tengah dari DKKI, berhasil meraih medali emas sebagai Juara Kumite Senior Putri Bebas pada Fornas VIII 2025 di NTB.
Menurut Elmeyra, kemenangan ini berkat dukungan keluarga, sensei, rekan DKKI, dan partnernya. “Yang penting ini adalah passion saya. Saya suka dan bahagia, sehingga saya bisa menikmati momen ini,” ujarnya pada Selasa, 27 Juli 2025.
Keikutsertaannya pada kejuaraan seperti Fornas VIII bukan pengalaman baru. Ia sudah mengikuti berbagai turnamen dengan berbagai rintangan.
“Pesan saya kepada generasi selanjutnya, tetap semangat. Pengalaman, passion, dan restu orang tua sangat penting,” katanya.
Bagi Elmeyra, Fornas VIII bukan soal menang atau kalah, melainkan mencari pengalaman sebanyak mungkin.
“Saya sering kalah dan mendapat tekanan, tapi karena passion saya dan target yang saya buat, saya bisa juara dan membanggakan semua orang di sini,” tutupnya.
Transportasi
Dalam mengikuti Fornas VIII ini, para atlet dari Jakarta mendapat suppor dari PT Dharma Lautan Utama (DLU). Perusahaan pelayaran ini membantu fasilitas transportasi bagi para atlet mengikuti ajang Fornas, untuk memperlancar pentelenggaraan Kejuaraan Dai Kyokushin Karate Indonesia (DKKI) dalam Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Founder & Chairman DKKI, Kancho Soengging Soerjasmoro memberikan apresiasi tinggi kepada panitia Fornas yang sukses menyelenggarakan kejuaraan ini dengan baik. Seluruh kebutuhan fasilitas atlet telah terpenuhi berkat peran Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi).
“Ini pertama kalinya saya melihat pertandingan dengan suasana sangat hidup. Penonton dan atlet bermain bukan hanya sekadar ikut, tapi sungguh bersemangat. Inilah yang kami harapkan, pertandingan yang benar-benar hidup,” ujar Soerjasmoro di GOR Turida Mataram, Selasa, 29 Juli 2025.
Antusiasme peserta sangat tinggi, hingga panitia terpaksa membatasi jumlah peserta dari berbagai daerah karena kuota panitia yang terbatas.
“Semua peserta tampil bagus, sehingga sulit menentukan juaranya karena kami menilai semua layak menjadi pemenang. Namun tetap harus ada yang keluar sebagai juara,” jelasnya.
“Hal ini sejalan dengan slogan Fornas NTB: Kalah menang tetap senang. Meski tanpa uang, kami tetap senang,” tambahnya. **